BREAKING NEWS
Pemerintah mengumumkan kebijakan terbaru terkait ekonomi digital • Pertandingan sepakbola semalam dimenangkan oleh tim nasional • Cuaca ekstrem diprediksi akan melanda sebagian wilayah Indonesia
Pemerintahan Internasional

Menag Dorong Pendekatan Ekoteologi untuk Tingkatkan Kesadaran Lingkungan di Tengah Karhutla

Admin Lenteranegeri | Tuesday, 20 October 2026 | 07:50 WIB
Menag Dorong Pendekatan Ekoteologi untuk Tingkatkan Kesadaran Lingkungan di Tengah Karhutla

Foto: Reuters

Lenteranegeri.com, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong penerapan pendekatan agama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Upaya tersebut dinilai penting, terutama di tengah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

Nasaruddin mengatakan, pendekatan ekoteologi dapat menjadi salah satu strategi untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Melalui penyampaian pesan berbasis nilai-nilai keagamaan, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.

“Penyadaran masyarakat akan lingkungan itu tidak mungkin pendekatannya terlalu formal. Dengan menggunakan bahasa agama, kesadaran masyarakat untuk memelihara lingkungan itu sangat besar,” kata Nasaruddin dalam konferensi pers dua tahun kinerja Kementerian Agama di kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).

Menurut Nasaruddin, ajaran agama memuat pesan tentang pentingnya menjaga kehidupan seluruh makhluk, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Karena itu, pelestarian lingkungan tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama yang berkaitan dengan nilai kemanusiaan dan keagamaan.

Ia menekankan bahwa menjaga kehidupan merupakan bagian penting dari pesan moral agama. Prinsip tersebut, menurutnya, dapat menjadi landasan untuk membangun perilaku masyarakat yang lebih peduli terhadap alam dan seluruh makhluk hidup.

“Barang siapa yang membunuh satu nyawa sama dengan membunuh nyawa yang lain. Barang siapa yang menghidupkan satu nyawa sama dengan menghidupkan nyawa yang lain. Binatang punya nyawa, tumbuh-tumbuhan punya nyawa, manusia punya nyawa,” ujar Nasaruddin.

Sebagai bentuk penerapan pendekatan tersebut, Kementerian Agama mendorong penyampaian pesan pelestarian lingkungan melalui khutbah seragam di wilayah yang terdampak karhutla. Melalui khutbah tersebut, masyarakat diharapkan memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga alam sekaligus mencegah tindakan yang dapat memperburuk kerusakan lingkungan.

“Kami mencoba untuk ada khutbah seragam di kawasan itu, betapa pentingnya kita memelihara lingkungan alam,” tutur Nasaruddin.

Selain melalui kegiatan keagamaan, Kementerian Agama juga mengajak jajarannya di daerah untuk berperan aktif dalam penanganan bencana. Upaya tersebut melibatkan Kantor Urusan Agama (KUA), majelis taklim, madrasah, serta jemaah masjid untuk membantu masyarakat yang terdampak.

Nasaruddin juga mengimbau pengelola rumah ibadah agar memanfaatkan fasilitas yang tersedia sebagai tempat pengungsian bagi warga yang membutuhkan perlindungan. Menurutnya, rumah ibadah tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat menjalankan ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang solidaritas dan pelayanan sosial ketika masyarakat menghadapi situasi darurat.

Peran tersebut diharapkan dapat memperkuat dukungan bagi warga terdampak, terutama ketika bencana mengganggu aktivitas sehari-hari dan memerlukan keterlibatan berbagai unsur masyarakat.

Sementara itu, Wakil Menteri Agama Muhammad Syafii mengatakan, Kementerian Agama telah membentuk tim koordinasi penanganan bencana. Tim tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dalam merespons dampak bencana di sejumlah daerah.

Syafii juga menyampaikan bahwa siswa di lembaga pendidikan keagamaan, termasuk madrasah dan pesantren, telah diizinkan mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) di wilayah tertentu yang terdampak asap karhutla. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi paparan asap terhadap siswa selama kondisi belum memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka.

“Di Kalimantan itu untuk anak-anak sudah diizinkan mereka PJJ, supaya tidak terdampak dengan asap itu,” kata Syafii.

Melalui pendekatan ekoteologi, keterlibatan lembaga keagamaan, serta koordinasi penanganan bencana, Kementerian Agama mendorong penguatan kesadaran lingkungan sekaligus kepedulian sosial. Di tengah ancaman karhutla, upaya tersebut diarahkan agar nilai-nilai keagamaan tidak hanya menjadi pedoman dalam beribadah, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata untuk menjaga alam dan membantu masyarakat terdampak.

Topik Terkait:

Home Berita Populer
Menu

Cakupan Berita

Kategori Berita

Informasi