Lenteranegerri.com, Probolinggo – Duka menyelimuti keluarga besar Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Probolinggo setelah salah satu atlet andalannya, Sefriel Ardiansyah, meninggal dunia saat membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kamis (15/10/2026).
Sefriel dilaporkan terjebak kobaran api ketika berupaya membantu pemadaman di sekitar tempatnya bekerja, Hotel Artotel, yang berada di kawasan Gunung Bromo. Lokasi kejadian disebut berada di sisi timur wilayah Mentigen, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Kepergian Sefriel meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekannya di FPTI Kota Probolinggo. Ketua Harian FPTI Kota Probolinggo, Iwan Rosidi, mengaku kehilangan sosok atlet berprestasi yang selama ini tidak hanya menjadi andalan daerah, tetapi juga dianggap sebagai anak sekaligus rekan dalam membina atlet panjat tebing muda.
Menurut Iwan, Sefriel pernah menyumbangkan dua medali untuk Kota Probolinggo dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur.
“Dia merupakan atlet berprestasi. Dari Porprov sebelumnya, dia menyumbang dua medali untuk Kota Probolinggo,” ungkap Iwan.
Masih Sempat Membahas Porprov 2027
Kenangan bersama Sefriel masih membekas di ingatan Iwan. Pada Jumat (9/10/2026), Sefriel bahkan masih menyempatkan diri datang ke GOR Ahmad Yani saat libur kerja.
Dalam pertemuan tersebut, keduanya sempat membicarakan persiapan menghadapi Porprov Jawa Timur 2027. Iwan mengaku menanyakan kesediaan Sefriel untuk kembali memperkuat Kota Probolinggo dalam ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.
Sefriel, yang tinggal di Jalan Serayu, Kota Probolinggo, menyatakan kesiapannya untuk menyesuaikan jadwal latihan dengan waktu kerjanya.
“Dijawab, gampang, nanti bisa menyesuaikan dengan hari kerja. Memang kalau libur, dia menyempatkan diri ke GOR untuk melatih,” kenang Iwan.
Di luar prestasinya sebagai atlet, Sefriel dikenal memiliki kepedulian terhadap perkembangan atlet-atlet muda. Meski telah bekerja di hotel kawasan Gunung Bromo, ia tetap meluangkan waktu untuk membantu melatih rekan-rekannya yang lebih muda ketika memiliki kesempatan.
Bagi Iwan, Sefriel bukan sekadar atlet yang pernah mengharumkan nama daerah. Ia juga merupakan bagian dari keluarga besar panjat tebing Kota Probolinggo yang turut membimbing generasi berikutnya.
Memilih Bekerja Meski Mendapat Beasiswa
Iwan mengungkapkan, Sefriel baru menyelesaikan pendidikan SMK pada 2025. Almarhum sebenarnya telah memperoleh beasiswa silver ticket dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Namun, keterbatasan biaya membuatnya memilih bekerja di hotel.
“Dia sebenarnya sudah mendapatkan beasiswa dari Unesa. Namun, karena keterbatasan biaya, akhirnya memilih bekerja di hotel itu,” ujarnya.
Keputusan tersebut tidak membuat Sefriel sepenuhnya meninggalkan dunia panjat tebing. Di sela-sela pekerjaannya, ia masih menyempatkan diri datang ke GOR Ahmad Yani untuk melatih atlet-atlet yang lebih muda.
Kehadirannya di lingkungan FPTI Kota Probolinggo juga meninggalkan kenangan tersendiri bagi rekan-rekannya. Iwan menyebut Sefriel sebagai sosok yang akrab dengan para atlet muda dan kerap membimbing mereka dalam kegiatan sehari-hari.
Dikenang sebagai Sosok yang Peduli
Selain dikenal melalui prestasinya di bidang olahraga, Sefriel juga dikenang karena kepeduliannya terhadap kehidupan beragama bersama rekan-rekannya.
Iwan menuturkan bahwa Sefriel kerap menjadi imam ketika mereka melaksanakan salat berjamaah. Ia juga sering mengajak dan membimbing atlet-atlet yang lebih muda untuk beribadah bersama.
“Dia juga sering membimbing adik-adiknya untuk salat berjamaah. Mereka sangat akrab. Kadang adik-adiknya ini dicengklek. Makanya, kami merasa sangat kehilangan,” kata Iwan.
Kedekatan tersebut membuat kepergian Sefriel terasa begitu berat bagi keluarga besar FPTI Kota Probolinggo. Sosoknya tidak hanya dikenang karena prestasi dan kontribusinya dalam membina atlet, tetapi juga karena hubungan akrab yang terjalin dengan rekan-rekannya.
Di tengah suasana duka, pihak FPTI Kota Probolinggo masih menunggu proses identifikasi jenazah Sefriel di ruang jenazah RSUD Tongas. Iwan mengatakan, pihaknya telah dimintai keterangan mengenai data antemortem, yakni informasi ciri fisik korban sebelum meninggal dunia, untuk membantu proses identifikasi.
Sejumlah ciri khusus yang disampaikan antara lain gelang tridatu yang biasa dikenakan Sefriel serta bekas luka di bagian kaki.
“Tadi kami sudah ditanya terkait data antemortemnya. Ada ciri-ciri khusus di badannya, seperti gelang tridatu yang digunakan dan bekas luka di kakinya,” jelas Iwan.
Bagi keluarga besar FPTI Kota Probolinggo, Sefriel meninggalkan jejak melalui prestasi, kepedulian, dan dedikasinya dalam membina atlet muda. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi rekan-rekan yang selama ini tumbuh dan berlatih bersama dengannya.