Lenteranegeri.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan sesi II, Senin (12/10/2026). Hingga pukul 13.54 WIB, IHSG merosot 2,75 persen ke level 5.926, seiring dominasi saham yang melemah dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Mengutip data RTI, indeks LQ45 turut terkoreksi 1,95 persen ke level 589. Seluruh indeks saham acuan bergerak di zona merah.
Pada perdagangan tersebut, IHSG bergerak pada rentang 5.921,70 hingga 6.128,72. Berdasarkan data yang tercantum dalam laporan, sebanyak 626 saham melemah, 102 saham menguat, dan 63 saham stagnan.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai tekanan terhadap IHSG dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik kembali memanas setelah kelompok Houthi menyerang Arab Saudi, di tengah kekhawatiran mengenai kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat (AS).
“Di sisi lain, pasar cenderung menanti akan ada rilis data inflasi China dan Amerika Serikat pada 14 Oktober 2026,” ujar Herditya saat dihubungi Liputan6.com.
Dari sisi domestik, Herditya menilai belum ada sentimen internal yang secara signifikan memengaruhi pergerakan IHSG. Ia juga menyebut koreksi tersebut membawa indeks ke level terendah sejak September 2026.
“Jadi dikatakan wajar atau tidaknya (penurunan IHSG-red) menurut kami yang relatif saja karena memang pergerakannya masih downtrend,” kata dia.
Seluruh Sektor Saham Melemah
Tekanan jual terjadi di seluruh sektor saham. Sektor energi mencatat koreksi terdalam, yakni 4,85 persen. Sektor infrastruktur menyusul dengan penurunan 4,71 persen, sedangkan sektor industri melemah 3,69 persen.
Sektor barang baku terkoreksi 3,16 persen, sektor konsumen siklikal turun 2,70 persen, dan sektor transportasi melemah 2,46 persen.
Sementara itu, sektor teknologi terkoreksi 2,02 persen, sektor properti turun 1,65 persen, sektor keuangan melemah 1,22 persen, sektor kesehatan terkoreksi 1,09 persen, dan sektor konsumen nonsiklikal turun 0,96 persen.
Data perdagangan hingga pukul 13.54 WIB mencatat frekuensi transaksi sebanyak 1.322.778 kali, dengan volume perdagangan mencapai 48,5 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp8,5 triliun.
Pada periode yang sama, kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah dalam laporan berada di kisaran Rp17.895 per dolar AS.
Saham RAJA, PIPA, dan DMAS Ikut Terkoreksi
Sejumlah saham turut melemah pada sesi II perdagangan. Saham RAJA tercatat turun 9,02 persen ke level Rp605 per saham. Saham tersebut dibuka stagnan di Rp665, sempat menyentuh level tertinggi Rp675, dan terendah Rp590.
Frekuensi transaksi saham RAJA tercatat 5.515 kali, dengan volume 424.602 saham dan nilai transaksi sekitar Rp26,9 miliar.
Saham PIPA juga melemah 6,38 persen ke level Rp132 per saham. Saham ini dibuka menguat satu poin ke Rp142, kemudian bergerak pada rentang Rp129 hingga Rp144. Frekuensi transaksi tercatat 1.323 kali, dengan volume 175.860 saham dan nilai transaksi sekitar Rp2,4 miliar.
Sementara itu, saham DMAS turun 2,17 persen ke level Rp180 per saham. Saham tersebut dibuka naik satu poin ke Rp185, dengan level tertinggi Rp186 dan terendah Rp179.
Frekuensi transaksi DMAS mencapai 5.365 kali, dengan volume 922.571 saham dan nilai transaksi sekitar Rp16,7 miliar.
Pelemahan IHSG pada sesi II mencerminkan tekanan jual yang meluas di pasar saham. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik serta rilis data inflasi China dan Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 14 Oktober 2026.